Tuesday, April 23, 2013

Pada siapa ku kecewa

mereka sama saja
mereka buat ku kecewa
kecewa yang tiada tara
menghunus menghujam dada

namun ku benci bukan mereka
mereka hanya wayang tak bernyawa
bak daun diatas udara
tak kuasa tiada daya

namun salahkah siapa
siapa menjadi siapa
mungkin asap tak kenal api
bahkan api tak tau kayu bakar

gelap malam menutup siang
namun siang tidaklah punah

hidup seimbang menimbang bimbang
memilah memilih satu pilihan
memang malam sangatlah pekat
tapi siang begitu dekat

aku bertanya, pada siapa ku kebertanya
hingga lupa mengapa harus kecewa

#Puisi karya Teteng
  Ditulis malam Rabu, 22 April 2013

Rahasia Di Balik Angka 1,618

Jawaban atas pertanyaan ini tersembunyi pada sebuah deret angka yang ditemukan oleh matematikawan Italia, Fibonacci.

0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, …

Angka Fibonacci memiliki satu sifat menarik. Jika Anda membagi satu angka dalam deret tersebut dengan angka sebelumnya, akan Anda dapatkan sebuah angka hasil pembagian yang besarnya sangat mendekati satu sama lain. Dan hasil pembagian ini bernilai tetap setelah angka ke-13 dalam deret tersebut.

233 / 144 = ?
377 / 233 = ?
610 / 377 = ?
987 / 610 = ?
1597 / 987 =?
2584 / 1597 =?

Dan hasilnya selalu:1,618


dan disebut = PHI

Daya tarik tubuh seseorang meningkat bila tubuh tersebut simetris dan proporsional. Begitu juga, jika wajahnya proporsional, orang lebih mudah tertarik dan menyebutnya cantik atau tampan. Para ilmuan percaya kalau evolusi membuat manusia percaya kalau tubuh yang proporsional adalah pertanda tubuh yang sehat, dan kesehatan termasuk syarat utama untuk kelangsungan hidup.

Leonardo da Vinci termasuk matematikawan pertama yang menemukan hubungan ini. Rasio ini disebut RASIO EMAS. Bangunan juga terlihat cantik bila menggunakan rasio emas, seperti contohnya Parthenon.


DNA.
Molekul yang mengandung informasi tentang seluruh sifat-sifat fisik makhluk hidup juga telah diciptakan dalam bentuk yang didasarkan pada rasio emas. Molekul DNA, cetak biru kehidupan, didasarkan pada rasio emas. DNA tersusun atas dua rantai heliks tegaklurus yang saling berjalinan. Panjang lengkungan pada setiap rantai heliks ini adalah 34 angstroms dan lebarnya 21 angstroms. (1 angstrom adalah seperseratus juta sentimeter.) 21 dan 34 adalah dua angka Fibonacci yang berurutan.

TUBUH MANUSIA.
Hubungan kesesuaian "ideal" yang dikemukakan ada pada berbagai bagian tubuh manusia rata-rata dan yang mendekati nilai rasio emas dapat dijelaskan dalam sebuah bagan umum sebagaimana berikut:

Nilai perbandingan M/m pada diagram berikut selalu setara dengan rasio emas. M/m = 1,618

Contoh pertama dari rasio emas pada tubuh manusia rata-rata adalah jika antara pusar dan telapak kaki dianggap berjarak 1 unit, maka tinggi seorang manusia setara dengan 1,618 unit. Beberapa rasio emas lain pada tubuh manusia rata-rata adalah:

Jarak antara ujung jari dan siku / jarak antara pergelangan tangan dan siku,
Jarak antara garis bahu dan unjung atas kepala / panjang kepala,
Jarak antara pusar dan ujung atas kepala / jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala,
Jarak antara pusar dan lutut / jarak antara lutut dan telapak kaki.

TANGAN MANUSIA
Jari-jemari kita memiliki tiga ruas. Perbandingan ukuran panjang dari dua ruas pertama terhadap ukuran panjang keseluruhan jari tersebut menghasilkan angka rasio emas (kecuali ibu jari). Anda juga dapat melihat bahwa perbandingan ukuran panjang jari tengah terhadap jari kelingking merupakan rasio emas pula

Anda memiliki dua (2) tangan, dan jari-jemari yang ada padanya terdiri dari tiga (3) ruas. Terdapat lima (5) jari pada setiap tangan, dan hanya delapan (8) dari keseluruhan sepuluh jari ini tersambung menurut rasio emas: 2, 3, 5, dan 8 bersesuaian dengan angka-angka pada deret Fibonacci.





WAJAH MANUSIA
Terdapat beberapa rasio emas pada wajah manusia. Akan tetapi Anda tidak dianjurkan mengambil penggaris dan berusaha mengukur wajah-wajah orang, sebab hal ini merujuk pada "wajah manusia ideal" yang ditetapkan oleh para ilmuwan dan seniman.

Misalnya, jumlah lebar dua gigi depan pada rahang atas dibagi dengan tingginya menghasilkan rasio emas. Lebar gigi pertama dari tengah dibandingkan gigi kedua juga menghasilkan rasio emas. Semua ini adalah perbandingan ukuran ideal yang mungkin dipertimbangkan oleh seorang dokter. Sejumlah rasio emas lain pada wajah manusia adalah:






PARU-PARU
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan antara tahun 1985 dan 1987 (5), fisikawan Amerika B. J. West dan Dr. A. L. Goldberger menemukan keberadaan rasio emas pada struktur paru-paru. Salah satu ciri jaringan bronkia yang menyusun paru-paru adalah susunannya yang asimetris. Misalnya, pipa saluran udara yang bercabang membentuk dua bronkia utama, satu panjang (bronkia kiri) dan yang kedua pendek (bronkia kanan). Percabangan asimetris ini terus berlanjut ke percabangan-percabangan bronkia selanjutnya. (6) Telah dipastikan bahwa pada seluruh percabangan ini perbandingan antara bronkia pendek terhadap bronkia panjang selalu bernilai 1/1,618.

BENTUK SPIRAL
Perhatikan bentuk berikut ini dan hitung tiap balok2nya
Membentuk deret fibonacci bukan? Mirip dengan bentuk cangkang laut, bentuk galaksi luar angkasa, tanaman merambat, dan sebagainya.



Lalu dimanakah titik rasio emas bumi?
Ternyata kota Mekah adalah titik rasio emas bumi:



Konon jika kita mencari dimana titik rasio emas kota Mekah, akan ketemu Ka'bah sebagai titik rasio emasnya.
Bukti dari Al Quran:



satu2nya surat dalam kitab suci Al Quran yg menyebutkan kota Mekah adalah Ali Imran 96. Didalam surat itu menggunakan kata Bakkah. Jumlah huruf dalam surat itu ada 47. Jika 47 dibagi 1,618 akan menghasilkan 29.

Lalu kesimpulannya??

Ternyata pencipta dunia ini, pencipta matematika, pencipta manusia, pencipta mekah, dan pencipta segala sesuatunya adalah SATU TUHAN YG SAMA

Tanda-tanda yang diberikan kepada Anda untuk menemukan cara yang tepat. Masih Kita ingin mengabaikan nya???

“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (QS. Al-Infitar, 7-8)

di copy seluruhnya dari sumber:
http://kitadanbumi.blogspot.com/2011/05/rahasia-di-balik-angka-1618.html

Monday, April 22, 2013

Waktunya Pemuda Bangkit (catatan dari pidato KH. Hilmi Aminudin)


Panggung Pemuda (Ust. Anis Matta)
Panggung Pemuda (KH. Hilmi Aminudin)



Hari ini harinya pemuda. hari-hari kedepan adalah harinya pemuda. waktunya pemuda bangkit dari keterpurukan kawan.pemuda penuh semangat, karya dan tanpa kenal lelah.


Alloh berfirman dalam Q.S, Al-Kahfi : 13-14 tentang pemuda :   

"Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran"."

Dalam ayat ini Alloh Muliakan Pemuda, lalu pemuda yang seperti apakah yang dimaksud?
pemuda yang Alloh muliakan dalam ayat ini adalah pemuda yang memiliki karakter :
   1. Beriman kepada Alloh
cukupkah pemuda dengan imannya? iman memang basis, iman memang fundament, iman memang landasan bagi     semua orang terlebih PEMUDA. tapi iman saja tidak cukup.
   2. Yang Kami (Alloh) beri petunjuk (kepada arah perjuangan yang benar)
   3. Yang  Kami (Alloh) teguhkan hatinya
   4. Tidak rela duduk-duduk
pemuda selamanya memiliki semangat kebangkitan ketika yang lainnya malas berjuang, pemuda selamanya memiliki semangat kebangkitan saat yang lainnya bosan dan lesu
   5. Bersikap Deklaratif, Proklamatif, berjuang Aktraktif
tidak ada pemuda berjuang dengan sunyi-sunyi
   6. Tidak pernah menutup mulut karena ketakutan
tidak pernah gemetar karena ancaman
tidak pernah lututnya lunglai tekanan dan penderitaan
   7. Selalu berkarya
bangkitlah pemuda "indonesia menunggu karya-karya kalian" yakinlah dan bangkitlah harapan itu masih ada.

Puisi-puisi karya Chairil Anwar


Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
Kepada Kawan
Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Cerita Buat Dien Tamaela
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Hampa
Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Saturday, April 20, 2013

aku yang bukan "aku"

gelap membungkam jiwa
kabur menghalang pandang
guruh tuli terdengar
resah gulungi hati

kerontak tak bersiram
rapuh tak berakar
rampung tak berujung
lelah tak kumampu

geram
resah
gundah

merajut kasih tak beralasan
terjerembab ke lombang keterpurukan
tak ada masa dihadapan
tak menentu arah tujuan

kebelakang bercermin buram
kehadapan menatap kosong
ah.. aku malu
pada moyangku
pada kawanku
pada rohku
pada bapakku
padamu bung
padamu bung
padamu........
bung karno

maafkan daku
daku berjanji padamu
aku berjiwa sepertimu
akan ku berteriak untuk BANGKITKAN pemuda pewaris semangat Indonesiaku

(---t-b-cntn---)

penulis "teteng" http://www.facebook.com/teteng.pemuda.ISLAM